Peranan
Komputer Pada Perikanan
( sumber
: http://gombalsay.blogspot.com/ )
Komputer sangat berkembang pesat saat ini terutama pada
perkantoran serta
swasta, selain itu kegunaanya mempunyai arti penting disetiap perkantoran.
Demikian pula di kantor Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong.
Disana Komputer sangat berperan penting karena dapat digunakan untuk keperluan
membuat laporan, analisis, surat, dan banyak juga yang lainnya.
Komputer juga dapat mengolah berbagai jenis informasi dan menampilkan berbagai
banyak yang diinginkan dan dibutuhkan dalam waktu yang relatif singkat sehingga
pemakaian komputer diperkantoran ini sangat dibutuhkan di Kantor Dinas
Peternakan dan Perikanan.
Istilah Komputer (Computer) diambil dari
bahasa latin Computare yang berarti menghitung ( to Computer ). Beberapa
definisi tentang komputer :
1.
Menurut buku Computer Annual (Robert H.Blissmer)
Komputer adalah suatu alat elektronika yang mampu melakukan
beberapa tugas sebagai berikut:
·
Menerima input
·
Memproses input tadi sesuai dengan programnya
·
Menyimpan perintah-perintah dan hasil dari pengolahan
·
Menyediakan output dalam bentuk informasi
2. Menurut
buku Computer Today (Donald H.Sanders) :
Komputer adalah sistem elektronik untuk memanipulasi data
yang cepat dan tepat serta dirancang dan diorganisasikan supaya secara otomatis
menerima dan menyimpan data input, memprosesnya dan menghasilkan output dibawah
pengawasan suatu langkah-langkah instruksi-instruksi program yang tersimpan di
memori (stored program).
3. Menurut buku
Computer Organization (V.C.Hamacher, Z.G.Vranesic, S.G.Zaky)
Komputer adalah mesin penghitung elektronik yang cepat dapat
menerima informasi input digital, memprosesnya sesuai dengan suatu program yang
tersimpan di memorinya (stored program) dan menghasilkan output informasi.
4. Menurut buku
Introduction To The Computer, The Tool Of Business (William M.Fuori) :
Komputer adalah suatu pemroses data (data processor) yang
dapat melakukan perhitungan yang besar dan cepat, termasuk perhitungan
aritmatika yang besar atau operasi logika, tanpa campur tangan dari manusia
mengoperasikan selama pemrosesan.
Dari beberapa definisi yang tersebut, dapat disimpulkan bahwa
komputer adalah
1.
Alat elektronik
2.
Dapat menerima input data
3.
Dapat mengolah data
4.
Dapat memberikan informasi
5.
Menggunakan suatu program yang tersimpan di memori komputer (stored program).
6.
Dapat menyimpan program dan hasil pengolahan
7.
Bekerja secara otomatis
Program adalah kumpulan dari instruksi atau perintah
terperinci yang sudah dipersiapkan supaya komputer dapat melakukan fungsinya
dengan cara yang sudah tertentu.
1.2 Pengolahan Data Elektronik
Pengolahan Data Elektronik (PDE) atau
Electronic Data Processing (EDP) adalah pengolahan data dengan menggunakan
komputer. Data adalah kumpulan kejadian yang diangkat dari suatu kenyataan.
Data dapat berupa angka-angka, huruf-huruf atau simbol-simbol khusus atau
gabungan darinya. Pengolahan data (data processing) adalah manipulasi dari data
ke dalam bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti berupa informasi.
Informasi (information) adalah hasil dari kegiatan pengolahan data yang
memberikan bentuk yang lebih berarti dari suatu kejadian. Jadi PDE atau EDP
adalah manipulasi dari data ke dalam bentuk yang lebih berarti berupa suatu
informasi dengan menggunakan suatu alat elektronik yaitu komputer.
1.3 Siklus Pengolahan Data
Suatu proses pengolahan data terdiri dari
3 tahapan dasar yang disebut dengan siklus pengolahan data (data processing
cycle), yaitu input, processing dan output.
1.4 Sistem Komputer
Sistem adalah jaringan daripada
elemen-elemen yang saling berhubungan, membentuk satu kesatuan untuk
melaksanakan suatu tujuan pokok dari sistem tersebut. Tujuan pokok dari sistem
komputer adalah mengolah data untuk menghasilkan informasi, supaya tujuan pokok
tersebut terlaksana, maka harus ada elemen-elemen yang mendukungnya.
Elemen-elemen dari sistem komputer adalah software, hardware dan brainware.
Hardware (perangkat keras/piranti keras)
adalah peralatan di sistem komputer yang secara fisik terlihat dan dapat
dijamah. Software (perangkat lunak/piranti lunak) adalah program yang berisi
perintah-perintah untuk melakukan pengolahan data. Brainware adalah
manusia yang terlibat di dalam mengoperasikan serta mengatur sistem komputer.
1.5 Kemampuan Komputer
Kemampuan komputer yang paling menakjubkan
adalah kecepatannya. Komputer dapat melakukan suatu operasi dasar, seperti
misalnya perhitungan pertambahan atau pengurangan, dalam waktu yang sangat
cepat, yaitu dalam satuan millisecond, microsecond, nanosecond atau
picosecond.
Kemampuan komputer lain yang menakjubkan adalah ketepatannya.
Kalau manusia lelah, maka mentalnya akan luluh yang akan berakibat
kecenderungan untuk melakukan kesalahan. Sebaliknya karena komputer tidak
mempunyai mental dan tidak mengenal lelah maka komputer tidak akan mengalami
kesalahan.
Komputer akan mengalami kesalahan, bilamana
1. komponennya
rusak
2. Data
yang dimasukkan salah, maka hasilnya akan salah.
Suatu
istilah komputer yang cukup populer, yaitu GIGO (Garbage In Garbage Out) yang
berarti sampah yang masuk, sampah pula yang keluar. Jadi kalau data yang
dimasukkan salah, maka hasilnya akan salah. Sebaliknya bila data yang
dimasukkan benar, maka hasilnya akan benar (Gold In Gold Out), emas yang masuk,
emas pula yang keluar. Disamping komputer yang mempunyai kemampuan untuk beroperasi
dengan cepat dan tepat, juga mempunyai kemampuan yang lain, yaitu mempunyai
ingatan (memori) yang sangat besar sekali.
PENGGUNAAN
SISTEM INFORMASI DI BIDANG PERIKANAN DAN KELAUTAN
( Sumber : http://manfaatpenggunaanaplikasikomputerdala.blogspot.com/2013/12/manfaat-penggunaan-aplikasi-komputer.html
)
Dunia kelautan merupakan dunia yang
sangat dinamis, disini hampir semunya bergerak kecuali dasar lautan . Di
wilayah yang merupakan bagian bumi terbesar ini, terdapat banyak sumber daya
alam yang bisa menghasilkan pendapatan yang tinggi untuk suatu daerah atau
pemerintahan, contohnya adalah sumber daya ikan. Indonesia merupakan suatu
negara yang sangat luas dan memiliki sumber daya perikanan yang sangat besar
juga. Dengan luas lautan sekitar 5,8 juta km2 dan panjang pantai kurang lebih
81.000 km, maka potensi pendapatan ekonomi dari bidang perikanan akan sangat
besar sekali (Christian, 2013).
Menurut Kusyanto (2001) potensi
sumber daya perikanan di Indonesia adalah 6.1 juta ton per tahun dan baru
termanfaatkan sekitar 57%. Kurangnya pemanfaatan teknologi dalam eksploitasi
sumber daya ikan2 tersebut menyebabkan tidak optimumnya pemanfaatan sumber daya
ikan yang ada.
Pemanfaatan suatu teknologi seperti
Sistem Informasi Geografis untuk perikanan diharapkan dapat mampu memberikan
suatu gambaran dan suatu tampilan spasial tentang sumber-sumber atau spot-spot
perikanan di wilayah indonesia yaitu dengan menggabungkan faktor-faktor
lingkungan yang mendukung tempat hidup dan berkumpulnya berbagai jenis ikan
tersebut sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil penangkapan ikan
(Kusnadi, 2010).
Ikan dengan mobilitasnya yang tinggi
akan lebih mudah dilacak disuatu area melalui teknologi ini karena ikan
cenderung berkumpul pada kondisi lingkungan tertentu seperti adanya peristiwa
upwelling, dinamika arus pusaran (eddy) dan daerah front gradient pertemuan dua
massa air yang berbeda baik itu salinitas, suhu atau klorofil-a. Pengetahuan
dasar yang dipakai dalam melakukan pengkajian adalah mencari hubungan antara
spesies ikan dan faktor lingkungan di sekelilingnya. Dari hasil analisa ini
akan diperoleh indikator oseanografi yang cocok untuk ikan tertentu. Sebagai
contoh ikan albacore tuna di laut utara Pasifik cenderung terkonsetrasi pada
kisaran suhu 18.5-21.5o C dan berassosiasi dengan tingkat klorofil-a
sekitar 0.3 mg m-3
(Polovia,
2001).
Selanjutnya output yang didapatkan
dari indikator oseanografi yang bersesuaian dengan distribusi dan kelimpahan
ikan dipetakan dengan teknologi SIG. Data indikator oseanografi yang cocok
untuk ikan perlu diintegrasikan dengan berbagai layer pada SIG karena ikan
sangat mungkin merespon bukan hanya pada satu parameter lingkungan saja, tapi
berbagai parameter yang saling berkaitan. Dengan kombinasi SIG, inderaja dan
data lapangan akan memberikan banyak informasi spasial misalnya dimana posisi
ikan banyak tertangkap, berapa jaraknya antara fishing base dan fishing ground
yang produktif serta kapan musim penangkapan ikan yang efektif. Tentu saja hal
ini akan memberi gambaran solusi tentang pertanyaan nelayan kapan dan dimana
bias mendapatkan banyak ikan (Mbojo, 2008).
Pengembangan SIG untuk kelautan
mempunyai dua kendala umum, pertama bahwa dasar-dasar perkembangan SIG adalah
untuk keperluan analisis keruangan pada suatu lahan (land-based sciences),
kedua analisis SIG untuk laut lebih banyak menggunakan 3D, sedangkan SIG
sendiri masih kurang mampu mengaplikasikan 3D secara baik pada daerah2 yg luas
(Kusuma, 2004).
Tujuan dilakukannya pembuatan aplikasi SIG dalam
bidang kelautan dan perikanan :
- Mengetahui ikan di
laut berada dan kapan bisa ditangkap jumlah yang berlimpah merupakan pertanyaan
yang sangat biasa didengar.
- Meminimalisir usaha
penangkapan dengan mencari daerah habitat ikan, disisi biaya BBM yang besar,
waktu dan tenaga nelayan.
- Mengetahui area dimana
ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar.
Menurut Nerangel (2013) SIG (Sistem Informasi
Geografis) merupakan sistem berbasis komputer yang didesain untuk mengumpulkan,
mengelola, memanipulasi, dan menampilkan informasi spasial (keruangan) berupa
informasi yang mempunyai hubungan geometrik dalam arti bahwa informasi tersebut
dapat diukur, dihitung, dan disajikan dalam sistem koordinat rujukan/bidang
hitung yang baku, dengan data berupa data digital yang terdiri dari data posisi
(data spasial) dan data semantiknya (data atribut)
Secara prinsip tujuan umum pemrosesan data pada teknologi SIG yaitu
mempresentasikan : Input, manipulasi, pengelolaan, query, analysis dan
visualisasi. Sumber data untuk keperluan SIG dapat berasal dari data citra,
data lapangan, survey kelautan, peta, sosial ekonomi, dan GPS. Selanjutnya
diolah di laboratorium atau studio SIG dengan software tertentu sesuai dengan
kebutuhannya untuk menghasilkan produk berupa informasi yang berguna, bisa
berupa peta konvensional, maupun peta digital sesuai keperluan user, maka harus
ada input kebutuhan yang diinginkan user. Komponen utama Sistem Informasi
Geografis dapat dibagi kedalam lima komponen utama yaitu : perangkat keras
(hardware), perangkat lunak (software), pemakai (user), data, dan metode
(Pamungkas, 2011).
Menurut Randy (2013) untuk mendukung
suatu Sistem Informasi Geografis, pada prinsipnya terdapat dua jenis data,
yaitu:
·
Data spasial, yaitu data yang berkaitan dengan aspek keruangan dan merupakan
data yang menyajikan lokasi geografis atau gambaran nyata suatu wilayah di
permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan berupa grafik, peta, atau pun gambar
dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) atau
dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.
·
Data non-spasial, disebut juga data atribut, yaitu data yang menerangkan keadaan
atau informasi-informasi dari suatu objek (lokasi dan posisi) yang ditunjukkan
oleh data spasial. Salah satu komponen utama dari Sistem Informasi Geografis
adalah perangkat lunak (software). Dalam pendesainan peta digunakan salah satu
software SIG yaitu MapInfo Profesional 8.0. MapInfo merupakan sebuah perengkat
lunak Sistem Informasi Geografis dan pemetaan yang dikembangkan oleh MapInfo
Co. Perangkat lunak ini berfungsi sebagai alat yang dapat membantu dalam
memvisualisasikan, mengeksplorasi, menjawab query, dan menganalisis data secara
geografis.
Keadaan-keadaan lingkungan yang
merupakan syarat kebahagian hidup bagi ikan-ikan tersebut merupakan suatu
sebaran spasial yang dapat di olah dengan Sistem Informasi Geografi. Data-data
lingkungan tersebut dapat di peroleh dari data penginderaan jauh seperti Sea
Surface Temperature (SST) suhu laut dan klorofil-a yang bisa diperoleh dari
citra MODIS sedangkan data-data lokasi pendaratan kapal penagkaan, batas pantai
bisa diperoleh dari survei lapangan dan peta dasar wilayah (Tanto, 2013).
Sistem informasi geografi merupakan
suatu interaksi antara data-data atribut dan data spasial yang bereferensi
geografi. Keunggulan SIG ini dapat dijadikan masukan berharga bagi para nelayan
atau pengusaha perikanan untuk mengetahuai lokasi-lokasi penangkapan
ikan.Dengan SIG bantuan data SST, klorofil, PAR (Photosintesis Actibe
Radiation) dll bulanan dalam beberapa tahun yang diperoleh dari PJ dan
dianalisis dengan SIG akan memberikan tampilan secara geografis kencendrungan
seberan dari faktor-faktor lingkungan yang disukai oleh ikan yang akhirnya
memberikan gambaran daerah perkiraan penangkapan ikan (Wiadnya, 2012).
SIG perikanan lebih sering bermain
dengan bentuk data raster. Data-data SST, klorofil dll tersebut merupakan suatu
data dari citra satelit yang berbentuk raster. Data raster mempunyai kelemahan
dalam proses penyimpaan dan kemampuannya berinteraksi dengan data atribut. Data
bentuk raster membutuhkan tempat penyimpanan yang sangat besar sehingga boros
hardisk, data raster juga merupakan data angka per pixel sehingga tidak bisa di
gabung dengan data tabel, keadaan ini terjadi apabila data raster tersebut
bersifat degradasi. Untuk bisa menggabungkannya dengan data tabel harus di
reklasifikasi terlebih dahulu, sehingga membentuk ID2. Interkasi data atribut
dengan data spasial sangat berguna pada lokasi pendaratan ikan, dimana
pelaporan secara berkala tentang hasil penangkapan ikan akan memberikan
informasi wilayah penghasil ikan terbesar dan informasi tentang pemanfaatan
potensi perikanan yang ada disekitar lokasi pendaratan kapal (Zainuddin, 2013).

Database telah menjadi issu sentral dalam
pemberdayaan sistem informasi perikanan di negara kita. Untuk memanfaatkan
sumberdaya perikanan kita yang cukup besar diperlukan adanya sistem data yang
cukup besar diperlukan adanya sistem data yang sistematis, lengkap dan terpadu
seperti data perikanan tangkap dan data lingkungan laut. Data tersebut dapat
digunakan untuk mempelajari secara efektif berapa besar potensi stok ikan yang
kita miliki, dimana stok ikan tersebut bisa ditangkap dan kapan musim ikan
tersebut akan berlimpah
Dengan keandalaan sistem database tersebut misalnya perkiraan ruang dan waktu
untuk menangkap perkiraan ruang dan waktu untuk menangkap ikan komersial
penting, indikasi awal fenomena alam seperti tsunami dan El Nini dan La Nina serta
polusi air.
Ada dua database yang digunakan yaitu fisheries database dan satellite
database. Kedua database tersebut dikombinasikan untuk mendapatkan kondisi
lingkungan yang disukai ikan tuna. Dengan menggunakan software GIS (system
informasi geografi), daerah potensial ikan tuna dapat dideteksi dari indikator
lingkungan yang suitable (cocok) dengan menggunakan peta prediksi dan
peta kontur. Kemudian daerah itu diperjelas (Enhancement) menggunakan
peta peluang (Envirinmental probability map) dari gabungan faktor-faktor
lingkungan dan data perikanan. Potensial habitat ini selanjutnya diuji
menggunakan mode statistik untuk memastikan dan memprediksi daerah penangkapan
yang produktif. Dan, dari hubungan kelimpahan ikan dengan indikator faktor lingkungan
yang sesuai digunakan untuk mensimulasikan jalur migrasi ikan tuna dengan basis
database dari suhu lingkungan.
Aplikasi database dalam bidang perikanan dan kelautan telah mengalami banyak
kemajuan yang bisa kita lihat dan akses lewat internet. Sebagai contoh FIGIS (Fisheries
Global Information System) menyediakan berbagai informasi seperti statistik
perikanan, peta sebaran ikan menurut spesies, issue dan topik perikanan aktual,
budidaya, perikanan laut dan teknologi penangkapan. FAO juga menyediakan data
dan informasi penting bagaimana profil perikanan di suatu negara dapat dipilih
dengan mudah melalui situsnya.
Peranan Internet di Dalam Bidang Perikanan
( Sumber : http://kelompok7pengantarinternet.blogspot.com/2011/06/peranan-internet-di-dalam-bidang.html
)
Internet (Inter-Network) adalah
sebutan untuk sekumpulan jaringan komputer yang menghubungkan situs akademik,
pemerintahan, komersial, organisasi, maupun perorangan. Internet menyediakan
akses untuk layanan telekomnunikasi dan sumber daya informasi untuk jutaan
pemakainya yang tersebar di seluruh dunia. Layanan internet meliputi komunikasi
langsung (email, chat), diskusi (Usenet News, email, milis), sumber daya informasi
yang terdistribusi (World Wide Web, Gopher), remote login dan lalu lintas file
(Telnet, FTP), dan aneka layanan lainnya.
Jaringan yang membentuk internet
bekerja berdasarkan suatu set protokol standar yang digunakan untuk
menghubungkan jaringan komputer dan mengalamati lalu lintas dalam jaringan.
Protokol ini mengatur format data yang diijinkan, penanganan kesalahan (error
handling), lalu lintas pesan, dan standar komunikasi lainnya. Protokol
standar pada internet dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control
Protocol/Internet Protocol). Protokol ini memiliki kemampuan untuk bekerja
diatas segala jenis komputer, tanpa terpengaruh oleh perbedaan perangkat keras
maupun sistem operasi yang digunakan.
Sebuah sistem komputer yang terhubung
secara langsung ke jaringan memiliki nama domain dan alamat IP (Internet
Protocol) dalam bentuk numerik dengan format tertentu sebagai pengenal.
Internet juga memiliki gateway ke jaringan dan layanan yang berbasis protokol
lainnya.
Pada saat ini berbagai produk perikanan
tangkap dalam kondisi stagnan. Karena nelayan mengalami keterbatasan alat
tangkap terutama kapal dan SDM yang memiliki kompetensi teknologi tentang
kelautan dan perikanan. Langkah Kementerian Perikanan dan Kelautan yang akan
menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk pengadaan ribuan kapal tangkap
untuk nelayan tidak akan optimal. Jika tanpa disertai dengan dukungan sistem
informasi yang mampu menggambarkan kondisi real time menyangkut kelautan dan
perikanan.
Pentingnya solusi yang terintegrasi
berupa e-Ocean Fisheries Goverment. Yakni berupa sistem informasi tentang
kelautan dan perikanan yang berbasis SIG ( Sistem Informasi Geografis ) dengan
kemampuan businees inteligent serta memiliki keandalan interoperabilitas
sehingga bisa berbagi informasi secara luas. Selain itu berbagai database
informasi perikanan global dapat diakses. Seperti contohnya FIGIS (fisheris
global information system) yang menyediakan berbagai informasi seperti
statistik perikanan, peta sebaran ikan menurut spesies, issue dan topik perikanan
aktual, budidaya, perikanan laut dan teknologi penangkapan. Data tersebut
tersedia kapan dan dimana saja kita perlukan. Selain itu badan PBB FAO juga
telah menyediakan data dan informasi penting tentang bagaimana profil perikanan
di suatu negara dapat dipilih dengan mudah melalui situsnya.
Pada prinsipnya pengembangan e-Ocean
Fisheries Goverment merupakan sistem informasi nasional yang berkemampuan
inteligensi sehingga pelaksanaan program dan tata kelola sumber daya kelautan
dan perikanan akan lebih efektif. Sistem memiliki konten dari berbagai aspek,
dari aspek ekologi, ekonomi kelautan, masalah sosial wilayah pesisir hingga
tata kelola pulau-pulau kecil. Sistem harus mudah diakses, mudah
diupdate setiap saat, mudah dipantau, sekaligus bisa
berfungsi sebagai Sistem Informasi Ekosistem Nasional yang pada saat ini telah
menjadi isu penting dunia. e-Ocean Fisheries Government bertujuan untuk
memenuhi informasi yang lengkap tentang kondisi kelautan nasional, baik dari
sisi sumber daya laut, keadaan perairan, cuaca, kejadian penting di laut
(accident maupun incident), tanda-tanda navigasi laut yang sangat membantu bagi
kapal berlayar di lautan kita, dan segala informasi mengenai laut lainnya.
Selain itu berbagai data antar departemen bisa dipertukarkan secara mudah.
Misalnya data untuk kebutuhan deteksi dan pemberanatsan aktifitas illegal
fisheris antara lain berupa track kapal ikan (posisi, kecepatan, heading),
Database SIPI, SIKPI (Identitas Pemilik, Perusahaan, Ukuran kapal, jenis alat
tangkap, tanggal kadaluarsa ijin), Database log book (jenis ikan, lokasi),
Database parameter biologi laut (klorofil, upwelling), Database batas WPP.
Dalam kegiatan penangkapan ikan,
pertanyaan klasik yang sering kali mencuat adalah dimana ikan di laut berada
dan kapan bisa ditangkap dalam jumlah yang cukup besar. Pertanyaan penting itu
perlu dicari solusinya. Apalagi usaha penangkapan dengan mencari daerah habitat
ikan yang tidak menentu (asal-asalan) menimbulkan resiko tinggi, yaitu
pemborosan BBM, buang-buang waktu dan tenaga nelayan. Dengan mengetahui area
dimana ikan bisa ditangkap dalam jumlah yang besar tentunya akan menghemat
biaya operasi penangkapan. Salah satu alternatif yang menawarkan solusi terbaik
adalah mengkombinasikan kemampuan SIG dan penginderaan jauh (inderaja)
kelautan. Dengan teknologi inderaja faktor-faktor lingkungan laut yang
mempengaruhi distribusi, migrasi dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara
berkala, cepat dan dengan cakupan area yang luas. Faktor-faktor lingkungan
tersebut antara lain menyangkut suhu permukaan laut (SST), tingkat konsentrasi
klorofil, perbedaan tinggi permukaan laut, arah dan kecepatan arus dan tingkat
produktivitas primer. Ikan dengan mobilitasnya yang tinggi akan lebih mudah
dilacak di suatu area melalui sistem teknologi informasi, hal ini dikarenakan
ikan cenderung berkumpul pada kondisi lingkungan tertentu seperti arus pusaran
dan daerah front gradient pertemuan dua massa air yang berbeda baik itu
salinitas dan suhu.
Pengetahuan dasar yang dipakai sebagai
basis sistem informasi adalah melakukan pengkajian hubungan antara spesies ikan
dan faktor lingkungan di sekelilingnya. Dari hasil kajian tersebut akan
diperoleh indikator oseanografi yang cocok untuk ikan tertentu. Selanjutnya
output yang didapatkan dari indikator oseanografi yang bersesuaian dengan
distribusi dan kelimpahan ikan dipetakan dengan teknologi SIG. Data indikator
oseanografi yang cocok untuk ikan perlu diintegrasikan dengan berbagai layer
pada SIG karena ikan sangat mungkin merespon bukan hanya pada satu parameter
lingkungan saja, tapi berbagai parameter yang saling berkaitan. Dengan
kombinasi SIG, inderaja dan data lapangan akan memberikan banyak informasi
spasial misalnya dimana posisi ikan banyak tertangkap, berapa jaraknya antara
fishing base dan fishing ground yang produktif serta kapan musim panen ikan
yang paling efektif.
Sebagai gambaran signifikansi
penggunaan SIG adalah kegiatan atau proyek penangkapan ikan tuna di laut
Pasific. Dalam proyek itu pada prinsipnya ada dua database (satelit dan perikanan
tuna) lalu dikombinasikan dalam mengembangkan spasial analisis daerah
penangkapan ikan tuna. Biasanya ada empat layer data yang diintegrasikan yaitu
suhu permukaan laut (NOAA/AVHRR), tingkat konsentrasi klorofil (SeaWiFS),
perbedaan tinggi permukaan air laut (SSHA) dan eddy kinetik energi (EKE)
(AVISO). Parameter pertama dipakai karena berhubungan dengan kesesuaian kondisi
fisiologi ikan dan thermoregulasi untuk ikan tuna; sedangkan parameter yang
kedua karena dapat menjelaskan tingkat produktifitas perairan yang berhubungan
dengan kelimpahan makanan ikan; sementara parameter yang ketiga berhubungan
dengan kondisi sirkulasi air daerah yang subur seperti eddy dan upwelling; dan
parameter terakhir berhubungan dengan indeks untuk melihat daerah subur dan kekuatan
arus yang mungkin mempengaruhi distribusi ikan. Data penangkapan ikan tuna
diplot pada peta lingkungan yang dibangkitkan dari citra satelit.
Setiap spesies ikan mempunyai
karakteristik oseanografi kesukaannya masing-masing dan cenderung menempati daerah
tertentu yang bisa dipelajari atau dibuat permodelannya. Hal tersebut bisa
dilakukan dengan pendekatan teknologi SIG. Database mestinya menjadi isu
penting dalam mengembangkan produksi perikanan tangkap di negeri ini yang
kondisinya saat ini sedang stagnan. Database tersebut juga sangat penting untuk
mengetahui secara persis berapa sebenarnya potensi stok ikan yang kita miliki.
Dan dimana saja stok ikan tersebut bisa ditangkap dan kapan bisa dipanen secara
melimpah.
Indonesia merupakan negara maritim
(kepulauan) terbesar di dunia karena sebagian dari wilayah kedaulatan Republik
Indonesia adalah laut, dan “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” bukan hanya
slogan belaka. Perairan Indonesia memiliki banyak potensi dari
sumberdaya alam, mineral, kekayaan hayati dan keanekaragaman penghuni dasar
lautnya. Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar penduduk Indonesia bermata
pencaharian di sektor kelautan. Para nelayan memanfaatkan kekayaan bawah laut
Indonesia sebagai sumber mata pencahariannya. Akan tetapi selama dekade ini,
nelayan tidak bisa memaksimalkan hasil tangkapannya dikarenakan masih minimnya
teknologi yang digunakan. Sehingga membuat tingkat akurasi rendah dalam
memprediksi keberadaan ikan

